my quotes

'life is like a puzzle need one another to make a complete picture that's why this life so perfect'

-Wikan-

'knowledge cannot replace friendship, I'd rather be an idiot than lose you'
-Patrick to Spongebob-

Minggu, 23 Desember 2007

my story

AKU PERNAH MERASAKANNYA

Tanggal 22 Februari 2003.

Sebenarnya hari ini aku bingung mau masuk sekolah dan sebenarnya aku merasa kosong, sebenarnya aku tidak merasakan apa-apa. Hari ini aku berangkat sekolah seperti biasa ke SD Marsudirini, aku kelas 5 SD waktu itu. Saat itu pelajaran agama, seseoang mengetuk pintu kelas dan mencariku, Bu Yani tetanggaku, dia menjemputku dan mbak Rinta untuk pulang ke Taman (rumah keluarga besar Toeladi. Katanya mau nyekar Om Yun (yang meninggal 40 hari sebelum ini). Aku menurut saja dan pulang.

Sampai di rumah aku bertanya kenapa tenda-tenda misa Om Yun tadi malam belum dibongkar. Tidak ada yang menjawab. Aku disuruh masuk dan ganti baju rumah, terus kulihat budhe Par mbrambangi (efek orang mau nangis) dia tanya apa aku sudah tahu. Bahkan saat itupun aku bingung, aku keluar dan melihat sesuatu terjadi pada mbak Rinta, dia hampir menangis. Ketika aku bertanya kenapa, dia hanya menjawab nggak ada apa-apa. Jantungku berdegup kencang saat aku menyadari sesuatu, mereka semua memakai pakaian yang sama yaitu hitam, walau dalam hati aku mencoba menenangkan diriku sendiri dan berkata bahwa akan mengunjungi Om Yun pasti memang memakai pakaian serba hitam. Tapi ada yang mengganjal kenapa tante Wisni belum pulang padahal katanya mau pulang hari ini. Aku dibawa oleh budhe Watiek ke kamarku. Aku didudukkan dan dirangkul terus dia berkata ”Puput kamukan tahu Ibu sudah lama sakit kanker limpha dan sekarang I bu sudah dipanggil Tuhan, Ibu sudah tenang di Surga.”

Perasaanku saat itu hangat. Aku sudah tahu dari 40 hari yang lalu kalau hari ini akan tiba, aku sudah mengerti dan sebenarnya aku tidak tahu harus berbuat apa

Kereta itu tanpa Ibu ada di dalamnya

Peti itu memperlihatkan jelas padaku

Kebaya itu sudah disiapkan

Dan tangisankupun sebenarnya sudah tak berisi lagi

Akhirnya aku memang tak dapat berbuat apa-apa lagi dan aku kacau. Aku menangis dan menyalahkan diri sendiri. Aku membenci karena memilih menonton film tak berguna daripada menemani Ibuku yang terbaring di kamar Elisabeth, Panti Rapih.

Tapi aku tahu, aku menangis setiap hari dan terus terngiang bodoh, perut Ibu yang terus membesar. Aku tahu Tuhan sudah tahu bahwa aku tahu ini akan terjadi, jadi Tuhan hanya diam dan menolongku untuk mengerti.

Penyesalanpun tak ada guna

Tangisanpun hanya sungai yang mengalir tak berarti

Sakit hatipun tak terobati

Tapi Beliau tetap di sana dan tak ada di dunia lagi

Ibuku sudah sembuh dan aku lega.

Beliau hidup dalam diriku saat ini dan membimbing keluargaku

Tidak ada komentar: