my quotes

'life is like a puzzle need one another to make a complete picture that's why this life so perfect'

-Wikan-

'knowledge cannot replace friendship, I'd rather be an idiot than lose you'
-Patrick to Spongebob-

Rabu, 20 Juli 2011

Perenunganku atas terapi awal Juli kemarin

11.59 a.m
@ Meja belajarku Rumah Taman

Aku bingung akan keadaanku saat ini … obatku udah nggak diturunin lagi sejak 5 bulan yang lalu. Dokterku bilang aku bisa lepas dari obat ini kalau udah 3 tahun. Kemudian Dokter itu menghitung tahunku berobat 2009,2010, 2011. Selesai itu, dia hanya senyum. Aku bener-bener nggak tahu maksud dokternya. Kalian pasti juga nggak tahu. Aku jadi menduga yang enggak- enggak, opsi dugaan ini bercabang juga, ini opsinya:
  1. Aku nggak bisa sembuh hingga butuh waktu lebih dari tiga tahun atau selamanya untuk tetap minum obat dengan dosis ini.
  2. Aku udah sembuh tapi dosis ini tetap dipertahankan soalnya aku masih labil serta masih menempuh pendidikan
  3. Dokternya ngira aku belum bisa pas antara perilaku ku sebagai skizofrenia person sama efek obat yang seharusnya ditimbulkan
  4. Sampai sekarang dokternya tanya ‘pusing-pusing enggak?’ , kayaknya memang bukan karena rambutku di cat merah tapi takut ada efek obatnya yang kerasa , atau mungkin pusing itu tanda sesuatu.
  5. Aku masih kelihatan sisa-sisa skizofrenia dan belum kelihatan normal betul.
Itu aja sih dugaanku gara-gara udah 5 bulan dosis ini tetap yaitu, setengah tablet (sumpah tabletnya seukuran biji jagung, apalagi setengahnya) diminum sehari sekali dan off hari kamis dan minggu. Kalau sekarang, sih aku nggak liat efeknya apa, konsentrasiku atau perilakuku. Ditanyain juga sama dokternya ‘gimana konsentrasinya?’ aku jawab ‘bagus, malah meningkat, walaupun dua nilai keluar pertama dapetnya C semua, itu dosennya yang gimana gitu.’ Dari jawabanku tentu bisa dianalisis kesalahanku, menurutku.
  1. Aku bilang konsentrasiku meningkat tapi aku nggak pernah memperhatikan dosen cuap-cuap, jadi aku nggak pernah melatih daya konsentrasiku. Dan seharusnya aku tahu bahwa aku harus melakukannya supaya aku terbebas dari obat.
  2. Ngrasa ‘dosennya gimana gitu’, iya… semua skizofrenia person tuh sensitive. Satu kalimat orang lain bisa buat ngrasa yang enggak-enggak, padahal orang lain itu biasa aja sama kita.
Selama yang kuingat aku kadang absurd dengan masa lalu, rasa kalau aku nginget seseorang yang aku suka di masa lalu udah nggak membuncah lagi, hanya tertawa sendiri ketika melihat blognya atau timelinenya yang kadang kelihatan menjurus ke aku. Aku bener-bener nggak ingat kepribadianku yang dulu. Sekarang aku sulit menjaga emosi, kalau emosi kelihatan banget, entah emosi dalam bentuk apa, senang, sedih, dll. Kalau gemes sering mijet-mijeti orang, atau manggil nama anggota keluarga dengan sebutan sesuka hati dan kulakukan berkali-kali seperti ‘Titi-titi-titi’ untuk adikku atau ‘mummy-mummy-mummy’ untuk Ibuku atau ‘pupi-pupi-pupi’ untuk Bapakku. Malah terkesan tidak jelas, karena memang aku lupa kepribadianku dulu, adikku pernah bilang ‘Kamu dulu nggak pernah kayak gitu.’ (aku tertohok). Aku merasa baik, bukan baik secara keadaan tetapi baik karena orang yang baik, aku sampai rela ke gereja dua kali untuk nganterin adikku yang nggak mau ke gereja, dan aku harus menahan tangis selama di gereja karena adikku cuma mendiamkan aku . Dan aku benar-benar harus berlatih menjaga perasaan orang lain lagi, kalau dulu waktu parah-parahnya (walau skizofrenia yang kuderita tergolong ringan) kata-kata pedas sampai keluar dari mulutku dan membuat Ibuku nangis. Sekarang enggak lagi aku menjaga mulut pedasku untuk menjaga perasaan orang lain, kalau ini kurasa akibat keadaan, karena adikku bermulut pedas. Kadang semangat timbul tenggelam dengan gampangnya, contoh aku jadi semangat olah raga setiap pagi demi menguruskan badan dan itu nggak bertahan seminggu, aku merapikan tempat tidurku setiap hari, juga bertahan tidak sampai dua minggu, kecuali.. mandi , syukurlah sampai sekarang aku masih sempat mandi dua kali sehari.

Entah mana yang termasuk ciri-ciri skizofrenia yang masih membekas, tapi aku ditawari ikut KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia) setelah aku bercerita aku pernah mencoba ikut gabung di PJS (Perhimpunan Jiwa Sehat) dan dinilai suportif oleh dokternya. Dokter itu bilang walaupun kita bisa bergaul dengan orang-orang normal tapi mungkin kita masih butuh orang-orang yang mengerti betul bagaimana kita. Kalau mengenai pendapat dokternya ini aku takut, takut pada orang-orang yang aku lihat di tempat rehabilitasi, mereka mengerikan dan sepertinya jauh lebih parah dariku karena mendapat penanganan terlambat. Dan itu yang dinilai dokternya salah, aku nggak boleh takut, skizofrenia sama dengan penyakit fisik lainnya sama dengan penderita gula, itu yang perlu disuluhkan pada orang-orang lain. Aku sih iya-iya saja dan menurut dengan yang dikatakan dokternya. Dokternya juga bilang kalau kambuh lagi walaupun sekali aku harus mengulang pengobatan dari awal lagi.

Bapakku jadi aware sama aku, takut juga kalau udah nggak ada keluarga dan aku hidup sendiri tapi aku tetap berdiam dengan penyakitku. Dokternya bilang ‘Kamu harus yakin bisa sembuh’. Sama dengan Budheku bilang ‘ Kamu harus yakin kamu bisa sembuh.’ Sama dengan Budheku yang lain lagi bilang ‘Yang dulu biarlah yang dulu, yang sekarang itu yang terlihat, kan? Kamu harus yakin bisa sembuh’. Karena itu, mau sampai berapa lama aku berobat, entah cuap-cuap Dokter yang berjanji berkali-kali obatnya akan diturunkan atau bilang aku akan hilang dari pengobatan suatu saat nanti, aku tetep harus yakin aku bisa sembuh.

4 komentar:

penulis mengatakan...

menurutku km baik2 aja kok ben,,,, normal banget tuh?? gek2 salah diagnosis kui. ckkck

dunia kecil indi mengatakan...

kemauan dan berdoa. you'll be fine :)

aqua mengatakan...

hahah...banyak orang yang ngomong gitu..aku juga ngrasanya normal.. tapi kan dokter yang tau tanda-tandanya.... soalnya aku udah berobat lama... sekarang udah jauh banget dari masa buruk

aqua mengatakan...

iya Ndi :) ...thx kunjungannya