my quotes

'life is like a puzzle need one another to make a complete picture that's why this life so perfect'

-Wikan-

'knowledge cannot replace friendship, I'd rather be an idiot than lose you'
-Patrick to Spongebob-

Sabtu, 18 Februari 2012

Obat dan masa laluku

Sekarang
dan menemukan hatinya, menemukan hatinya lagi
-Sheila On 7-

Setiap hari, hampir setiap hari aku menyesal terus kenapa aku disadap, kenapa aku, kenapa aku, kenapa aku?!?!?! Berkali-kali aku bimbang untuk menentukan masa depan, dan ternyata sudah ada yang mengambil alih pikiranku sebelum menentukan akan memilih yang mana *sok laku*. Entah berujung ke mana ini tapi harus ada yang ngajak ngomong aku tentang aku sendiri. Sampai sini moodku sedikit mendung. Yah.. karena Januari sama dengan hujan sehari-hari maka sekarang kalau sore atau siang awan mendung langsung menampakkan tanda-tanda mau nangis. Dan itu mesti bikin suasana hati yang tadinya keras langsung melunak seiring suasana. Akuin aja pemirsa, kalau cuaca mempengaruhi mood anda sehari-hari. Dan yang paling jelas, kalau kamu ngrasain bener-bener suasana yang kayak begitu yang mendorong hati buat inget seseorang yang jauh di sana dengan kalimat yang berdengung di kepala "Apakah dia merindukanku seperti aku merindukannya?"

Ketahuan deh, aku orangnya seperti apa. Yah.. waktu ujian Mid semester di Auditorium Fakultas Kehutanan waktu itu, hujan yang mengguyur kota Jogja mengingatkanku banget sama kejadian ketika percaya hatiku nggak sama sekali keras, dan aku masih tetap cewek. Ya iyalah, aku cewek dan bukan cowok walau nama baptisku diambil dari Santo yang artinya berjenis kelamin cowok. Maaf, itu soal lain.

Tapi dengan semangat 92 (tahun kelahiranku) aku memacu hariku (kemarin Jum'at) ke Psikiater. Seperti yang kulakukan rutin, berkonsultasi dan mencari jati diri. Sekadar informasi, aku udah lupa yang aku rasain dulu sebenarnya, kalau dibilang ilmu pengetahuanku yang mendorong aku untuk dirujuk ke psikiater sebenarnya ada benarnya, tapi masih aku menggunakan rasa sinting kalau ada orang yang aku suka untuk memilih hidupku.

Curhat nya standar, karena sebelum ini aku shock aku disadap lagi, dan keluar dengan rasa hati yang tertusuk-tusuk dari ruang periksa, dua minggu sebelum kemarin, dan obatku langsung dinaikkan jadi dexa 2 kali sehari. Tau apa yang terjadi? langsung deg-degan nggak jelas, apa lagi tambah obat kuning yang aku nggak tau namanya, yang jelas nampaknya aku nggak cocok sama obatnya dan akhirnya aku memilih minum haloperidol minum sekali sehari.

Setelah berobat kemarin psikiaternya yang nyetir pembicaraan, karena ada Bapakku yang nggak ahli banget tentang psikologisku, ckck. Apalagi yang dibicarakan nggak tau ngarah kemana dan berujung ke mana. Yang tahu hanya psikiater dan Tuhan.. Haaffftt #pasrah.

Pertanyaannya, "Apa seperti ada yang menyiarkan yang kamu pikirkan ke semua orang?", dan aku jawab, "Ya, mungkin, aku nggak tau, susah ngejelasinnya, tapi sekarang sudah berkurang."

Yang lain, "Merasa apa saja?" Jawabku, "Yang tertulis seperti apa kemarin Dokter? ya seperti di sadap gitulah." Psikiaternya nglanjutin, "Apa bener namanya di sadap?" Aku kikuk jelas, orang nggak tau namanya dan yang muncul di otakku hanya itu,"Susah ngejelasinnya, aku nggak tahu, udah gitu aja, tapi kurasa sudah berkurang."

Bapak nyrobot, "IPnya turun, dok." Aku nimpali, "Iya dok, 2,11 dan salah satu mata pelajaran sempat T, tidak lengkap tapi kayaknya cuma kurang nama dan nim. Dan karena kesalahpahaman nilaku jadi E."

Psikiaternya diem dan menutup matanya sebentar, dia memberitahu sebenarnya, tentang mic yang benar-benar ada menyiarkan yang aku katakan. Dan ada yang menyiarkan yang aku pikirkan. Tapi mau gimana tidak seorangpun bilang sama aku secara langsung. Aku belum bisa memastikan dan sementara obatku nggak bisa diberhentikan begitu saja. Sekarang yang kudengar sudah beda, nggak seperti dulu, aku nggak diam saja dan menelungkupkan muka di atas meja seperti waktu di bangku kelas 3 SMA. Aku hidup dan aku blogging, aku memikirkan cowok dan masa depan.

Cinta membutuhkan ketulusan dan pengorbanan (tanya hatimu)
GIGI



Wuih, gila tadinya opening udah cerah secerah sinar mentari, klimaksnya bisa sendu dan sedih, ya. Ceritaku begitu, klimaksnya sekarang bahwa aku dan kalian harus menerima diri sendiri dulu apa adanya. Percaya sesuatu akan indah pada waktunya. Tuhan nggak jauh dan tetap ndengerin siaran radio surga dari berbagai channel sedunia, dan mesti doa kita selalu masuk di hati-Nya dan nggak mungkin masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Kamu lho yang bilang kuping panci. Nggak ah kupingku daging tulang dan kulit, ada koklea, rumah siput, gendang telinga, dan sempurna hahaha.

dag...dag...dag...
Tetap di sini dan jangan pergi, pemirsa, saya masih setia nulis buat anda :*

Tidak ada komentar: